A. Pengertian Cedera
1. Cedera
Cedera adalah
suatu akibat daripada gaya-gaya yang bekerja pada tubuh atau sebagian daripada
tubuh dimana melampaui kemampuan tubuh untuk mengatasinya, gaya-gaya ini bisa
berlangsung dengan cepat atau jangka lama.
Dapat dipertegas
bahwa hasil suatu tenaga atau kekuatan yang berlebihan dilimpahkan pada tubuh
atau sebagian tubuh sehingga tubuh atau bagian tubuh tersebut tidak dapat
menahan dan tidak dapat menyesuaikan diri.
Harus diingat
bahwa setiap orang dapat terkena celaka yang bukan karena kegiatan olahraga,
biarpun kita telah berhati-hati tetapi masih juga celaka, tetapibila kita
berhati-hati kita akan bisa mengurangi resiko celaka tersebut.
2.
Cedera Olahraga
Kegiatan
olahraga yang sekarang terus dipacu untuk dikembangkan dan ditingkatkan bukan
hanya olahraga prestasi atau kompetisi, tetapi olahraga juga untuk kebugaran
jasmani secara umum. Kebugaran jasmani tidak hanya punya keuntungan secara
pribadi, tetapi juga memberikan keuntungan bagi masyarakat dan negara. Oleh
karena itu kegiatan olahraga sekarang ini semakin mendapat perhatian yang luas.
Bersamaan
dengan meningkatnya aktivitas keolahragaan tersebut, korban cedera olahraga
juga ikut bertambah. Sangat disayangkan jika hanya karena cedera olahraga
tersebut para pelaku olahraga sulit meningkatkan atau mempertahankan prestasi.
“Cedera
Olahraga” adalah rasa sakit yang ditimbulkan karena olahraga, sehingga dapat
menimbulkan cacat, luka dan rusak pada otot atau sendi serta bagian lain dari
tubuh.
Cedera olahraga
jika tidak ditangani dengan cepat dan benar dapat mengakibatkan gangguan
atau keterbatasan fisik, baik dalam
melakukan aktivitas hidup sehari-hari maupun melakukan aktivitas olahraga yang
bersangkutan. Bahkan bagi atlit cedera ini bisa berarti istirahat yang cukup
lama dan mungkin harus meninggalkan sama sekali hobi dan profesinya. Oleh sebab
itu dalam penaganan cedera olahraga harus dilakukan secara tim yang
multidisipliner.
Cedera olahraga
dapat digolongkan 2 kelompok besar :
a.
Kelompok kerusakan
traumatik (traumatic disruption)
seperti : lecet, lepuh, memar, leban otot, luka, “strain” otot, “sprain”
sendi, dislokasi sendi, patah tulang, trauma kepala-leher-tulang belakang,
trauma tulang pinggul, trauma pada dada, trauma pada perut, cedera anggota
gerak atas dan bawah.
b.
Kelompok
“sindroma penggunaan berlebihan” (over
use syndromes), yang lebih spesifik yang berhubungan dengan jenis
olahraganya, seperti : tenis elbow,
golfer’s elbow swimer’s shoulder, jumper’s knee, stress fracture pada tungkai
dan kaki.
B.
Macam Cedera Olahraga
Didalam
menangani cedera olahraga (sport injury)
agar terjadi pemulihan seorang atlit untuk kembali melaksanakan kegiatan dan
kalau perlu ke prestasi puncak sebelum cedera.
Kita ketahui
penyembuhan penyakit atau cedera memerlukan waktu penyembuhan yang secara
alamiah tidak akan sama untuk semua alat (organ) atau sistem jaringan ditubuh,
selain itu penyembuhan juga tergantung dari derajat kerusakan yang diderita,
cepat lambat serta ketepatan penanggulangan secara dini.
Dengan demikian
peran seseorang yang berkecimpung dalam kedokteran olahraga perlu bekal
pengetahuan mengenai penyembuhan luka serta cara memberikan terapi agar tidak
menimbulkan kerusakan yang lebih parah, sehingga penyembuhan serta pemulihan fungsi,
alat dan sistem anggota yang cedera dapat dicapai dalam waktu singkat untuk
mencapai prestasi kembali, maka latihan untuk pemulihan dan peningkatan
prestasi sangat diperlukan untuk mempertahankan kondisi jaringan yang cedera
agar tidak terjadi penecilan otot (atropi).
Agar selalu
tepat dalam menangani kasus cedera maka sangat diperlukan adanya pengetahuan
tentang macam-macam cedera.
C.
Klasifikasi Cedera Olahraga
Secara umum cedera olahraga
diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu :
a. Cedera tingkat 1 (cedera ringan)
Pada cedera ini penderita tidak
mengalami keluhan yang serius, namun dapat mengganggu penampilan atlit.
Misalnya: lecet, memar, sprain yang ringan.
b. Cedera tingkat 2 (cedera sedang)
Pada cedera tingkat kerusakan jaringan
lebih nyata berpengaruh pada performance atlit. Keluhan bias berupa nyeri,
bengkak, gangguan fungsi (tanda-tanda inplamasi) misalnya: lebar otot, straing
otot, tendon-tendon, robeknya ligament (sprain
grade II).
c. Cedera
tingkat 3 (cedera berat)
Pada cedera tingkat ini atlit perlu
penanganan yang intensif, istirahat total dan mungkin perlu tindakan bedah jika
terdapat robekan lengkap atau hamper lengkap ligament (sprain grade III) dan IV atau sprain
fracture) atau fracture tulang.
d. Strain dan Sprain
Strain dan sprain adalah kondisi
yang sering ditemukan pada cedera olahraga.
1. Strain
Strain adalah menyangkut cedera otot atau tendon. Strain dapat dibagi atas 3 tingkat,
yaitu :
a) Tingkat
1 (ringan)
Strain tingkat ini tidak ada robekan
hanya terdapat kondisi inflamasi ringan, meskipun tidak ada penurunan kekuatan
otot, tetapi pada kondisi tertentu cukup mengganggu atlit. Misalnya straing
dari otot hamstring (otot paha belakang) akan mempengaruhi atlit pelari jarak
pendek (sprinter), atau pada baseball
pitcher yang cukup terganggu dengan strain otot-otot lengan atas meskipun hanya
ringan, tetapi dapat menurunkan endurance (daya tahannya).
b) Tingkat 2 (sedang)
Strain pada tingkat 2 ini sudah terdapat
kerusakan pada otot atau tendon, sehingga dapat mengurangi kekuatan atlit.
c) Tingkat 3 (berat)
Strain pada tingkat 3 ini sudah terjadi
rupture yang lebih hebat sampai komplit, pada tingkat 3 diperlukan tindakan
bedah (repair) sampai fisioterapi dan
rehabilitasi.
2. Sprain
Sprain adalah
cedera yang menyangkut cedera ligament.
Sprain dapat dibagi 4 tingkat, yaitu
:
a) Tingkat 1 (ringan)
Cedera tingkat 1 ini hanya terjadi
robekan pada serat ligament yang
terdapat hematom kecil di dalam ligamen dan tidak ada gangguan fungsi.
b) Tingkat 2 (sedang)
Cedera sprain tingkat 2 ini terjadi
robekan yang lebih luas, tetapi 50% masih baik. Hal ini sudah terjadi gangguan
fungsi, tindakan proteksi harus dilakukan untuk memungkinkan terjadinya
kesembuhan. Imobilisasi diperlukan 6-10 minggu untuk benar-benar aman dan
mungkin diperlukan waktu 4 bulan. Seringkali terjadi pada atlit memaksakan diri
sebelum selesainya waktu pemulihan belum berakhir dan akibatnya akan timbul
cedera baru lagi.
c) Tingkat 3 (berat)
Cedera sprain tingkat 3 ini terjadinya robekan total atau lepasnya
ligament dari tempat lekatnya dan fungsinya terganggu secara total. Maka sangat
penting untuk segera menempatkan kedua ujung robekan secara berdekatan.
d) Tingkat 4 (Sprain fraktur)
Cedera sprain tingkat 4 ini terjadi
akibat ligamennya robek dimana tempat lekatnya pada tulang dengan diikuti
lepasnya sebagian tulang tersebut.
Referensi :
Paul M. Taylor,
dkk. (2002). Mencegah dan Mengatasi
Cedera Olahraga. Jakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA.
Andun
Sujidandoko. (2000). Perawatan dan Pencegahan Cedera. Yogyakarta:
Departemen Pendidikan Nasional .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar